Membaca Rupa, Melampaui Teks

ENERGI untuk meneruskan rutinitas pameran ini pantas untuk diapresiasi. Apalagi peluang untuk mendapatkan reward ekonomi yang memadai sebenarnya relatif cukup kecil, bahkan tak ada pretensi atau target ke arah itu. Harian Kompas dan Bentara Budaya melakukan hal itu lewat Pameran Ilustrasi Cerpen Harian Kompas yang tahun 2010 ini telah memasuki tahun ketujuh. Ini merupakan rentetan karya yang telah dimuat di harian Kompas sepanjang satu tahun terakhir.


Ada 51 ilustrasi cerpen yang terpajang dalam pameran yang berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Jalan Kotabaru 2, Yogyakarta, 18-26 September 2010. Sebelumnya, karya-karya tersebut digelar mulai akhir Juni lalu di Bentara Budaya Jakarta, kantor biro Kompas Bandung, dan Balai Sudjatmoko Solo. Lalu, setelah di BBY, rencananya road show exhibition ini hendak berlanjut di galeri Orasis Surabaya serta Bentara Budaya Bali di pengujung Oktober mendatang.

Pameran ini kiranya merupakan “pameran kedua” karena sesungguhnya karya-karya tersebut telah dieksposisikan dalam “pameran pertama” di rubrik “Seni”, sebuah ruang yang muncul di harian Kompas tiap edisi Minggu. Seperti yang digagas oleh pengasuh rubrik tersebut, maka karya-karya visual bernama ilustrasi cerpen yang mengiringi cerita pendek itu muncul tiap pekan dalam galeri bernama harian Kompas. Bagi para perupa yang ketiban sampur (mendapat kesempatan) untuk mengkreasi karya ilustrasi, tentu, sebuah keberuntungan tersendiri. Publik pasti tahu bahwa sampai saat ini Kompas merupakan harian terbesar di Indonesia. Dari beberapa sumber, koran yang dibangun oleh Jacob Oetama dan P.K. Ojong tahun 1966 ini bertiras sekitar 500.000 tiap kali terbit.

Meruahnya populasi pembaca Kompas ini juga mulai merembet pada bentuk cyber harian tersebur, yakni e-paper Kompas yang hingga hari-hari ini telah beranggotakan sekitar 243.000 pelanggan. Artinya, dengan asumsi kasar atas angka-angka itu, maka para penikmat ilustrasi Kompas di tiap pekan sudah melampaui angka ratusan ribu pasang mata. Bahkan, kalau ada asumsi bahwa tiap satu koran Kompas dibaca oleh tiga orang, maka penikmat ilustrasi Kompas berpotensi lebih dari satu juta pembaca. Angka ini menjadi nilai penting tersendiri yang tak bisa secara serampangan dikonversi dengan angka-angka rupiah yang terkadang banal. Bayangkan (sekaligus bandingkan), misalnya, dengan karya seni rupa yang dipamerkan dalam sebuah perhelatan seni rupa paling penting di republik ini (semacam biennale), paling banter hanya disaksikan tidak lebih dari 25.000 orang mulai dari pembukaan hingga penutupan pameran.

Dari asumsi seperti di atas, apakah para perupa yang ketiban sampur untuk membuat ilustrasi cerpen Kompas telah sadar dengan nilai lebih itu? Ini sulit dijawab dengan serta-merta. Hanya saja, dari sekian banyak tampilan karya-karya itu, setidaknya ada tiga hal mendasar yang dipersepsikan oleh perupa dalam membaca dan “membaca” sebuah cerpen dan kemudian menerjemahkannya dalam satu ilustrasi.

Hal pertama, karya ilustrasi cenderung sebagai karya yang “in-version”, yakni karya yang hanya ingin memberi kelengkapan teks sastra itu. Karya rupa cenderung dangkal karena belum memberi penggambaran yang substansial atas teks. Betul-betul ilustrasi yang sekadar menggambarkan secara wantah (apa adanya) atas teks cerpen. Mungkin hanya membaca judul lalu dari situlah kerangka visual diwujudkan. Kedua, ada karya yang “out-of-version”, yakni karya yang bisa jadi keluar dari konteks pembacaan atas karya cerpen itu. Mungkin ada kepongahan dari sang perupa untuk mencoba “otonom” dari narasi lain di luar dirinya. Atau juga, hanya perkara teknis, sang perupa masih dibayang-bayangi oleh karya penting kreasinya yang ingin dipaksakan masuk kembali pada karya ilustrasi itu. Ini semacam pemaksaan teks visual terhadap teks sastra yang sebetulnya “harus” dibaca. Ketiga, karya ilustrasi yang “subversive”. Karya jenis ini memperlihatkan gairah perupa untuk membaca teks narasi cerpen, menganalisis substansinya, dan lalu mentransformasikannya dalam aspek perupaan seperti yang diinginkannya. Di sini, tak jarang, menjadi karya yang justru menajamkan cerpen, tak sekadar mendampingi, karena telah melampaui teks (beyond of the text). Dan, tentu, memberi pengayaan imajinasi terhadap sang pembaca.

Dari tiga jenis persepsi perupa terhadap cerpen itu, publik bisa merunuti secara umum. Misalnya, ada beberapa karya yang sekadar melengkap judul cerpen, seperti ilustrasi karya Restu Ratnaningtyas, Hendra Hehe Harsono, J. Ariadhitya Pramuhendra, dan beberapa lainnya. Untuk jenis kedua, karya yang cenderung “out-of-version” bisa nampak pada karya Awan P. Simatupang, Yuli Prayitno juga Budi Kustarto, dan lainnya. Sementara karya yang cukup imajinatif untuk mengayakan substansi cerpen, seperti yang banyak diakui, ada pada karya Davy Linggar yang menerjemahkan cerpen Sebuah Rencana Hujan karya Sungging Raga, juga karya Setyo Priyo Nugroho yang “membaca” karya cerpen Hantu Nancy-nya Ugoran Prasad.

Meski ada beberapa celah kelemahan, secara umum, pameran kali ini sedikit banyak cukup berkembang. Hanya memang, seperti ada garis korelasi kuat antara perkembangan seni rupa di Indonesia (secara umum) dengan para perupa yang tampil di dalamnya. Pertanyaannya: apakah sistem seleksi para perupa ini didasarkan pada aspek komodifikasi yang menghambur di pelataran seni rupa dalam setahun terakhir ini dimana di dalamnya ada seniman yang cukup kuat sebagai “aktor” penting? Kalau demikian adanya, maka patut diperiksa kembali karena saya kira Kompas sangat bisa mengonstruksi sistem yang bebas dari kepentingan di luar dirinya. Ini juga berlaku pada aspek yang lain, semisal persebaran asal para perupa yang masih sangat memusat pada para perupa dari Yogyakarta dan Bandung. Bayangkan, dari 51 perupa pengilustrasi cerpen, 41 nama di antaranya (sekitar 80 persen) berasal atau tengah tinggal dan berkarya di Yogyakarta dan Bandung. Dari sini, kiranya, pantas disayangkan karena Kompas seolah seperti penyambung lidah galeri komersial yang harus ikut merawat eksistensi para perupa “binaannya”, bukan mencoba menggali setiap kemungkinan, potensi, dan anomali yang diyakni ada pada banyak kawasan lain di luar Yogyakarta dan Bandung. Bahwa dua kota itu menjadi syaraf penting denyut seni rupa di Indonesia, tak perlu disangkal lagi. Namun mengondisikan diri Kompas sebagai talent scouter (pemandu bakat), apa salahnya? ***

0 Response to "Membaca Rupa, Melampaui Teks"

Posting Komentar

Free Website Hosting